survival of the cooperative

logika evolusi di balik pilihan untuk membantu orang lain

survival of the cooperative
I

Pernahkah kita menahan pintu lift yang hampir tertutup demi orang asing yang berlari tergesa-gesa? Atau mungkin kita pernah menyisihkan uang untuk patungan membantu teman yang sedang tertimpa musibah? Kalau dipikir-pikir, tindakan sepele ini sebenarnya sangat aneh jika kita melihatnya lewat kacamata evolusi klasik yang sering diajarkan di sekolah. Katanya, hukum alam itu kejam. Dunia ini adalah arena gladiator raksasa di mana hanya yang paling kuat yang akan bertahan. Survival of the fittest. Siapa yang tidak egois, dia yang akan tergilas. Tapi kalau alam semesta ini memang murni ajang saling injak, kenapa otak kita justru sering menyuruh kita berbuat baik? Kenapa ada rasa lega dan hangat yang mengalir di dada setelah kita berhasil menolong orang lain? Mari kita bedah misteri biologis ini bersama-sama.

II

Ternyata, ada sebuah kesalahpahaman sejarah yang lumayan fatal tentang evolusi. Frasa survival of the fittest sebenarnya tidak murni diciptakan oleh Charles Darwin dalam konteks persaingan brutal. Tokoh yang mempopulerkan ide bahwa kehidupan adalah kompetisi bernuansa kapitalistik justru seorang sosiolog dan filsuf bernama Herbert Spencer. Darwin sendiri dalam bukunya, The Descent of Man, malah menyebut kata "cinta" dan "simpati" puluhan kali. Darwin sebenarnya menyimpan satu teka-teki biologi yang sempat membuatnya pusing tujuh keliling. Logikanya, kalau tujuan utama makhluk hidup adalah mewariskan gen pribadinya ke generasi berikutnya, kenapa ada lebah pekerja yang rela mati demi melindungi ratunya? Atau kenapa kera di hutan sering terlihat sibuk mencari kutu di punggung kera lain, alih-alih menghabiskan waktu mencari makan untuk perutnya sendiri? Di titik ini, asumsi bahwa evolusi selalu menghasilkan makhluk yang egois seolah menemui jalan buntu.

III

Untuk menjawab kebuntuan tersebut, para ilmuwan mulai meneliti perilaku hewan dan leluhur manusia dengan kaca pembesar yang lebih jernih. Mari kita ambil contoh kelelawar vampir atau vampire bats. Hewan nokturnal ini punya metabolisme yang sangat cepat; mereka harus minum darah setiap malam agar tidak mati kelaparan. Menariknya, kelelawar yang gagal mendapat mangsa malam itu tidak dibiarkan mati kelaparan oleh kawanannya. Kelelawar lain yang perutnya kenyang secara sukarela akan memuntahkan sedikit darah untuk teman di sebelahnya. Mereka melakukan ini karena mereka tahu, besok atau lusa, mungkin giliran mereka yang bernasib sial. Ahli biologi menyebut strategi cerdas ini sebagai reciprocal altruism atau altruisme timbal balik. Lalu bagaimana dengan kita, manusia? Bukti paling mengharukan tidak datang dari teks filsafat, melainkan dari tulang belulang berusia puluhan ribu tahun. Para antropolog menemukan fosil manusia purba dengan tulang paha atau femur yang pernah patah dengan parah, namun sembuh kembali. Di alam liar yang ganas, tulang paha yang patah adalah vonis mati yang pasti. Anda tidak bisa lari dari predator liar, tidak bisa berburu, dan tidak bisa mencari air. Fakta bahwa tulang itu sempat sembuh membuktikan satu kebenaran yang tak terbantahkan.

IV

Ada rahasia besar di balik tulang yang sembuh tersebut: ada orang lain yang menggendongnya, memberinya makan, merawat lukanya, dan melindunginya dari bahaya sampai ia pulih berbulan-bulan kemudian. Inilah momen di mana kita harus mengubah cara pandang kita terhadap sejarah umat manusia. Spesies kita, Homo sapiens, tidak dibekali taring yang tajam, cakar yang mematikan, berlari secepat cheetah, atau memiliki kulit sekeras badak. Kalau kita diadu satu lawan satu melawan simpanse atau macan tutul di hutan bebas, kita pasti kalah telak. Lalu, apa yang membuat kita tidak hanya bertahan, tapi mampu menyebar ke seluruh penjuru bumi dan membangun peradaban yang kompleks? Jawabannya adalah kemampuan kita untuk bekerja sama secara luar biasa fleksibel dalam jumlah besar. Kita bukanlah pemenang dari kompetisi adu otot. Kita adalah pemenang dari kompetisi adu gotong royong. Paradigma yang secara ilmiah jauh lebih tepat bukanlah survival of the fittest, melainkan survival of the cooperative. Kebaikan hati, empati, dan keinginan untuk menolong sama sekali bukanlah sebuah kelemahan. Sebaliknya, itu adalah insting bertahan hidup paling canggih yang pernah dipahat oleh evolusi. Secara biologis, otak kita sengaja dirancang untuk merilis hormon bahagia seperti dopamin dan oksitosin saat kita menolong orang lain karena alam menghadiahi kerja sama. Alam tahu betul, kita hanya bisa selamat kalau kita bersatu.

V

Jadi, ketika teman-teman memutuskan untuk meluangkan waktu mendengarkan keluh kesah sahabat, meminjamkan catatan kuliah, atau berbagi payung di tengah hujan deras, kita sebenarnya sedang menjalankan cetak biru genetik kita yang paling luhur. Kita sedang merayakan apa artinya menjadi manusia yang seutuhnya. Di dunia modern sekarang yang sering kali terasa dingin, individualis, dan selalu menuntut kita untuk berkompetisi mengalahkan satu sama lain, memilih untuk menjadi orang yang peduli kadang terasa seperti sebuah tindakan pemberontakan yang melelahkan. Tapi ingatlah selalu sejarah panjang yang mengalir dalam darah kita. Kebaikan bukanlah kepolosan yang naif. Kebaikan adalah senjata evolusi kita yang paling mutakhir. Tanpa kepedulian tanpa pamrih dari leluhur kita, kita tidak akan pernah duduk di sini hari ini. Mungkin pada akhirnya, cara paling masuk akal untuk memenangkan kehidupan bukanlah dengan memastikan kita tiba di puncak sendirian, melainkan dengan memastikan sebanyak mungkin dari kita bisa sampai ke garis akhir bersama-sama.